Senin, 20 April 2009

CONTEK-MENYONTEK DALAM DUNIA GAME

Dalam beberapa bidang yang saya kenal seperti lagu, film, musik dan buku, saya sering mendengar kata plagiatisme atau contek-mencontek. Hal ini selalu berakhir dengan kisruh karena sepertinya semua ikut komentar dan akhirnya gak tau lagi mana yang benar dan mana yang salah.

Yang saya ketahui selama ini dalam kasus-kasus plagiatisme atau contek mencontek biasanya kasusnya selalu ruwet. Saya sendiri tidak bisa memutuskan apakah benar mereka itu menjiplak atau enggak. Ada yang bilang mereka itu terinspirasi, dsb.

Masalahnya adalah apakah kata terinspirasi bisa dikenakan pada murid yang mencontek? Saya mungkin bisa membela diri ketika saya mencontek pada waktu ujian dengan mengatakan bahwa saya terinspirasi oleh jawaban teman saya.

Sekarang mari kita bandingkan dengan dunia game komputer. Kasus ini sebenarnya juga sama aja, cuman beda dikit. Sebagai contoh mari kita lihat pada game Zuma. Anda pasti tahu game Zuma kan? dan anda pasti tahu bahwa game Zuma itu kembarannya banyak sekali, contohnya adalah luxor, tumble bug, aqua bubble dan masih banyak lagi. Bisa dibilang Zuma itu punya saudara kembar sebanyak lebih dari 10 saudara. Apakah orang bule gak pernah ikut KB?

Contoh lain adalah game Bounce Out yang punya kembaran cukup banyak. Belum lagi game Tetris yang saudaranya sudah ribuan. Kalau kumpul semua mungkin bisa sampai satu stadion. Masalahnya adalah apakah hal ini bisa dikatakan sebagai plagiatisme? Jawabannya ternyata yang tidak, buktinya game-game tersebut bisa aman-aman saja dan dijual tanpa ada masalah dengan hukum.

Hal ini mungkin saja karena dalam dunia game sudah ada aturan yang pasti mengenai urusan contek mencontek ini. Mungkin itu karena dulunya memang mereka sama-sama suka mencontek sehingga masing-masing bisa saling memaklumi. Apakah ada hubungan antara mencontek dan main game? Untuk hal ini saya jujur masih belum tahu karena saya belum menemukan riset tentang hal itu.

Pertanyaan tentang contek mencontek ini sering menghantui saya hingga akhirnya saya dapat kabar dari teman bahwa sebuah game boleh sama dengan game yang lain dalam hal ide bahkan hingga ke permainannya, asalkan gak sama persis 100% dan tampilan dan judulnya harus beda. Itulah sebabnya kenapa si Luxor ini berani meniru si Zuma tanpa ada masalah dengan hukum. Padahal bisa dibilang mereka itu saudara kembar. Walaupun permainannya sama persis asal judul beda dan tampilan beda maka ok-ok aja dan no problemo.

Begitu sederhanya aturan ini, sehingga memudahkan kita dalam membuat game dan menjualnya. Memang enak kerja di game, karena kita bisa comot ide sana sini dan gak kuatir kena sidang.

Dulu saya sering bingung untuk bikin game, karena sepertinya semua game yang saya buat sudah dibuat oleh orang lain terlebih dahulu. Tapi sekarang saya bisa lebih tenang dan tentram serta bahagia.

Oleh karena itulah kenapa akhirnya saya lebih senang bikin game daripada bikin lagu atau bikin novel. Selain karena emang gak bisa bikin lagu dan novel, tapi juga karena memang bikin game itu lebih gampang dan longgar aturannya. Gak perlu jadi terkenal untuk dapet duit dan gak kuatir dikejar wartawan. :D





tag word: contek ide, plagiat, plagiatisme, game, artikel, tulisan, tentang, pemula


3 komentar:

ndop mengatakan...

wow, saya belum menjamah dunia pembuatan game.. so... belum ada pikiran mau ncontek apa nggak..

ohohoho...

Ricky Nova Iskandar,S.Sos, mengatakan...

gamers mania nih, hebat konsepnya mas :)

-salam sukses-

Haqqi mengatakan...

Wah, iya nih. Dipikir-pikir emang banyak game yang mirip. Tapi itulah seninya game. Meskipun mirip, tapi peminatnya kan tergantung selera...